Blog EntryRaja Kecil di Istana HimajurDec 27, '07 4:45 AM
for everyone
 

Surat Untuk Kawan

Nikmatnya menjadi raja kecil, di Istana Himajur nan indah nun jauh di atas bukit sana.

Sambutan hangat dan pelayanan yang teramat lengkap. Bangun tidur di pagi hari, telah siap sedia sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat. Diantarkan pula oleh dayang-dayang baik hati itu ke kamarku. Bahkan aku tak dibolehkan mencuci sendiri piring kotor bekas aku mengisi perutku sendiri.

Ya. Bahkan aku punya kamar khusus dan terpisah dari yang lainnya. Ah. Indah memang menjadi raja.

Belum pernah aku alami pengalaman seperti ini sejak kukenal Himajur. Sekali saja berkunjung setelah bertahun-tahun tak bersua, telah berbeda sekali budayanya.

Tapi maaf, dengan segala hormat aku tak menikmati status baru yang disematkan pada aku dan kami. Raja kecil. Ah. Bukan itu tujuan aku datang.

Aku datang karena aku jujur perduli dan ingin mendapat pengalaman baru bersama kawan-kawan baru.

Aku datang untuk memenuhi undangan datang karena memang aku diundang, hhmm, mungkin diundang oleh segelintir orang.

Dengan semangat dan hati yang senang bukan kepalang. Dengan niat tulus, aku ingin berbagi bersama kawan-kawan baru.

Bukannya aku sok tahu. Aku bahkan tak tahu apa-apa. Belum apa-apa. Hanya seorang perempuan yang telah lebih dahulu menikmati indahnya kebersamaan di Himajur dulu kala dan telah lebih dahulu menikmati kejamnya industri media massa.

Aku hanya ingin bersua dan bercerita. Mari bercengkrama, mari bertukar cerita, mari berbagi dengan memahami perbedaan pikiran, ide, gagasan dan bahkan mimpi-mimpi.

Mari membuka hati dan pikiran dengan memposisikan diri kita adalah sama. Sejajar. Tak ada tua muda. Tak ada kebohongan. Yang ada hanya ketulusan hati dan kejujuran untuk kebersamaan. Bukan intrik apalagi politik. Ah. Aku dan kami sama sekali tak membawa pesan-pesan politik.

Alangkah sayang bukan kepalang, keberadaan aku dan kami hanya dilihat sebagai tamu tak diharapkan datang. Sengaja diasingkan. Terpisah dari kawan-kawan baru.

Atau memang birokrasi istana terlalu kaku saat ini? Sengaja mengkotak-kotakkan manusia? Atau kami, raja-raja kecil ini terlalu berlebihan dalam menebar gagasan? Apakah kritisisme dan keterbukaan berwacana dianggap ancaman?

Raja kecil yang tak punya kuasa dan tak punya kesempatan untuk bersuara. Itulah kami.

Aku seperti tidak berada dalam sebuah komunitas Himajur yang kukenal tujuh tahun silam.

Komunitas yang membebaskan anggotanya untuk bebas berbicara, tebuka, jujur tanpa intrik dan politik, bebas bersosialisasi, kebebasan yang dilandasi dengan kebersamaan dan keinginan untuk menghidupkan sejuta karakter yang nyatanya memang berbeda.

Membaurkan keberagaman bukan justru membentuk keseragaman.

Budaya yang membebaskan. Itu komunitas himajur yang telah berumur sepuluh tahun.

Sepuluh tahun dengan perubahan budaya yang sangat mengenaskan. Sungguh mengenaskan dan berhasil membuat aku gerah.

Kami jelas telah gagal. Tak mampu mendampingi kawan untuk terus berkarya dalam keragaman, untuk terus berjuang dengan berjuta rasa dan pengorbanan, untuk tetap menjadikan kritisisme sebagai senjata untuk menceritakan kebenaran. Dan menjadikan perbedaan sebagai pengalaman yang teramat berharga untuk begitu saja dibunuh perlahan dan dikubur dalam-dalam.

Karakter himajur yang kubanggakan nyatanya telah terbunuh perlahan.

Kawan, Himpunan Mahasiswa Jurnalistik, bukan sekedar kumpulan penyelanggara event yang canggih luar biasa.

Kawan, Himpunan Mahasiswa Jurnalistik, tak malukah dengan julukan itu, jika kita tak mampu membuat perubahan?

Setidaknya kekuatan pikiran mu kawan, yang kau tuliskan dalam selembar naskah, dan kau sumbangkan dalam buletin setidaknya memancing kawan lain untuk membaca dan memahami maksudmu.

Kekuatan Jurnalistik dan kawan-kawan jurnalis sudah seharusnya dibentangkan seluas-luasnya dalam Himpunan Mahasiswa Jurnalistik.

Nama itu begitu megah kawan, jika saja kita bersama membangun kekuatan kata-kata.

Kata-kata yang menjalin cerita tentang pudarnya kritisisme dalam jiwa kawan-kawan jurnalis muda.

Kata-kata tentang kegelisahan-kegelisahan kawan-kawan mahasiswa dikampus tercinta.

Setidaknya kata-kata dalam suara yang lantang dan tak gentar berbicara dalam lingkaran kecil tirani yang membunuh karakter pelan tapi pasti. Tirani yang membuat kau tetap hidup tapi sebenarnya mati.

Kawan muda yang telah mati dalam hidupnya. Kawan, aku perduli. Aku tak ingin kau mati.

Sulut kemampuan otakmu untuk berpikir jauh lebih mendasar, untuk lebih perduli.

Pancing kritisisme yang mungkin sengaja kau pendam di sana, di hati nurani mu kawan.

Sengaja kau pendam karena mungkin kau takut. Ah, kawan, ketakutan itu tak beralasan. Tak ada alasan logis apapun untuk mendahului nasib.

Kau adalah kawanku, jurnalis muda, yang seharusnya memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat untuk memberitakan kebenaran.

Untuk membongkar topeng-topeng tirani yang melanggengkan ketidakadilan, pembodohan, pembunuhan karakter, bahkan merusak keindahan solidaritas dan kebersamaan.

Kawan, kita adalah manusia yang setara. Kau, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, pembesar atau orang kecil, adalah manusia yang memiliki hak hidup dan kehidupan yang sama.

Kawan, kita berhak mendapat kesempatan yang sama, termasuk untuk berbicara.

Dan bicaralah kawan. Jangan hanya diam. Karena diam tak berarti emas.


Wawa

Tangerang, Banten


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.