Blog EntryLompat Lagi May 12, '08 9:47 PM
for everyone

Pencarian Humanisme

 

Saya memang punya frekuensi yang lebih sering dalam hal berganti pekerjaan.

Lompat dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Mulai dari perusahaan sangat kecil dengan sedikit prajuritnya, namun luar biasa proffesional. Hingga ke perusahaan (induknya, bukan unit kecilnya) paling besar sekalipun dengan stabilitas yang menjanjikan, gaji besar di kelasnya, dan menyimbolkan kemapanan serta kenyamanan.

Lelah memang berganti pekerjaan baru, perusahaan baru, penyesuaian baru, dan tingkat kesulitan baru. Tapi sejauh saya melangkah, tidak ada kesulitan yang tak bisa dilewati. Tidak ada yang tidak mungkin, saya percaya itu. Dengan sedikit kerja keras dan komitmen serta integritas, semua kesulitan akan bertransformasi menjadi kemudahan.

Tak begitu sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, walau bukan berarti saya menyenangi lingkungan itu.

Tak masalah harus berkutat dengan diktat baru untuk mempelajari bidang masalah baru. Toh, hasilnya nanti bisa menambah satu lagi skill dan pengembangan karakter yang lebih kaya. Jadi soal berganti bidang kerja, selama masih dalam jalur tulis menulis, bukanlah persoalan besar yang harus ditakuti.

Nah, sulitnya adalah untuk menerima bahwa ternyata perusahaan dan manajamen tidaklah humanis. Tidak memanusiakan manusia.

Kata seorang teman, ”Hey kita sebagai karyawan harus menemukan cara untuk mengatasi ketidaksesuaian dengan karakter perusahaan dan atau manajemen. Kita yang harus mencipta alur yang sejalan dengan maunya perusahaan, kalau tidak kita akan terus menerus tertekan,”

Kataku, ” Iya yah...mungkin gua yang nggak bisa menyesuaikan dengan keadaan, menerima dan kemudian menjalaninya meski hati kecil menolak, dan terus tergadaikan dengan toleransi demi kenyamanan, keamanan, dan nominal uang yang lumayan, toh memang kita harus bertahan hidup bukan?,”

Itu respon yang secara otomatis keluar ketika dominasi menguasai perbincangan, bukan keterbukaan dan diskusi yang dilatari dengan pendalaman karakter dan latar belakang masalah yang lebih lengkap.

Butuh waktu sepuluh jam untuk mengendapkan pikiran, emosi, dan analisa untuk mencari solusi paling tepat dalam menjawab pergulatan pikiran dan hati ini.

Pergulatan yang terjadi bukan karena saya masih ingin bekerja pada perusahaan mapan, tapi lebih kepada saya harus tetap bekerja untuk mereka dan diri sendiri. Memahami bahwa saya tidak sanggup menahan diri untuk membantu orang lain, yang sebenarnya adalah membantu diri sendiri untuk tidak tamak dan membentuk sosok individu yang lebih berguna dan tidak sia-sia.

Pergulatan yang menemukan titik terang setelah terbangun di pagi buta untuk sekedar cuci muka.

Saya kemudian berpikir sambil bertanya, ”You Sure?!”

Lalu saya jawab, ”Yes, I am Sure!”

“Apa alasannya?”

Nah, ini pertanyaan yang paling saya tidak suka. “Kenapa kamu mengundurkan diri?” pertanyaan ini semakin serius ketika saya berniat mengundurkan diri dari perusahaan yang luar biasa dikenal orang dengan kematangan dan kenyamanannnya. “KENAPA KAMU MENGUNDURKAN DIRI?” seakan mereka sangat ingin tahu, “Kenapa Nekat?”

Haahahahaha. Saya sempat bingung ingin menjawab apa, bahkan sampai tak tahu harus berpikir apa, begitu rumit dan menyebalkan.

Tuhan akhirnya datang, dan berkata, (semoga), ”Apa yang kau cari? Apa yang kau mau? Kau sudah meminta padaku yang kau mau. Kau pernah berkata suatu waktu padaku, ’ Tuhan beri aku perkerjaan yang mapan, dengan finansial yang tidak mengecewakan, setidaknya jangan turun dari gaji terakhir Tuhan, dan tolong beri aku pekerjaan yang lebih stabil agar aku tak lagi capek bekerja memberikan komitmen dan kinerja yang tiada terbatas untuk perusahaan yang tak sanggup membayar karyawannnya’

Dan kau pasti masih ingat betapa kau sangat gembira begitu menerima telepon dari seorang perempuan yang menyebut nama dan perusahaan yang pastinya sangat kau kenali. Kau begitu terkejut dan tak menyangka, akhirnya keajaiban datang juga. Dan sekarang kau akan meninggalkannya? Apa maumu?”

Lalu aku menjawab pertanyaan Tuhan, ”saya mau meneruskan perjalananku untuk mencari tempat bekerja, sekaligus tempat saya bisa menafkahi diri dan orang lain, yang punya prinsip humanisme! Jika saya tidak berhasil menemukannya, entah dengan batas waktu kapan, saya lebih baik membangun emperium sendiri, membangun dunia sendiri, membangun diri sendiri dengan menjadi pengusaha yang humanis!”

Jika seseorang atau perusahaan bisa memanusiakan manusia, saya percaya hidupnya tidak sia-sia. Ketika ada humanisme disana, sikap tidak adil akan musnah, kebenaran terungkap, kesalahan akan terkoreksi, tidak ada saling menyalahkan, yang ada setiap orang merasa saling membutuhkan, menghormati, menghargai, dan keterbukaan akan membangun komunikasi yang lebih baik, dan kerjasama akan terbangun dengan kerja tim yang super luar biasa.

Dan itulah perusahaan tempat saya akan membuktikan loyalitas, integritas, komitmen yang dilatari keikhlasan, dan kontribusi yang super.

Dan kalaupun tidak selesai pencarian itu, saya akan membuktikan, bahwa saya bisa mengoptimalkan kemampuan dan pengalaman untuk mencipta satu atau dua atau tiga perusahaan yang bisa mengkampanyekan humanisme.

Terima kasih Tuhan....semoga saja pembicaraan kita bukan bunga tidur yang Cuma menggoda. Terima kasih Tuhan...saya masih punya nyali untuk menentukan seperti apa nasib saya kedepan dengan sikap dan kepercayaan diri saya sekarang.


lembaranku wrote on May 12
MMMuuaaaachhhhhhhhhhhh......luv u
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.